Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Indahnya Iman dan Kesatuan Bagi Ummat

Karena beda antara kau dan aku sering jadi kebencian, karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran, karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu, wasiat sang nabi itu rasanya berat sekali “jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara” mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong menyendiri berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam bertafakur bersama iman yang menerangi hati hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari melantunkan kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia lalu dengan rindu kita kembali kedalam ukhuwah mengambil cinta dari langit dan menebarkanya di bumi dengan persaudaraan suci sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah menjadi keharusan dalam kehidupan bersama, karena sudah menjadi hukum alam sebelum adanya kitab-kitab para nabi, sudah adanya kehidup bersama yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dan dibuktikan oleh Al-Qur’an sebagai kitab universal yang slalu memberi kesejukan pada setiap ummat manusia dan hampir separuh isinya mengatur hukum-hukum sosial. Dan dibuktikan oleh Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai panduan pada setiap massa.

Buku ini adalah renungan-renungan sederhana bagaimana membangkitkan kembali kekuatan ummat yang hari ini terserak-serak bagi buah tak berarti, tentu saja tak hendak muluk, semua ikhtiar itu di mulai dari dalam diri kita. Disini kita menginsyafi bahwa iman berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama bahwa tiap hubungan  yang tak didasari iman akan jadi sia-sia dan baik iman maupun ukhuwah memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya dalam dekapan ukhuwah.

Sekilas tentang renungan dalam buku ini adalah sangat indah mudah di baca dan kemudian untuk dipahami oleh kita semua sebagai ummat yang beragama, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan generasi muda pada khususnya. Buku ini menceritakan bagaimana manusia sebagai pribadi yang lemah dituntun untuk memperkokoh keyakinan kita supaya tidak mudah di goda oleh hal-hal yang bersifat tidak baik dan tidak bermanfaat. Ketika berbicara maupun dalam bertindak harus berhati-hati karena di sisilain ada hak-hak orang lain yang harus diperhtikan oleh kita  dalam bingkai keindahan persatuan.

Renungan ini merupakan salah satu ilmu atau pendidikan bagi ummat untuk memperkokoh keyakinannya karena dengan hadirnya berbagai gejolak dalam kehidupan, entah itu pengaruh hiruk-pikuk gejala sosial yang terjadi saat ini, kalau kita amati bagaimana peradaban  manusia di warnai dengan konflik-konflik, korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kemiskinan, dan masih tingginya praktek nepotisme di bangsa kita. Buku renungan masa depan ini layak dan patut di jadikan contoh bagi kita sebagai ummat yang beragama untuk menuntaskan kejaliman di muka bumi, tetapi sebelumnya perlu kita simak contoh renungan dibawah ini mungkin  bisa dijadikan sebagai pelajaran dan hikmah bagi semua ummat Manusia.

Pada suatu hari, tiga tokoh berjumpa di salah satu sudut madinah. kisah ini menceritakan tentang kepedulian, membagi kebijaksanaan, dan memberi damai dengan pemahaman serta pemaknaan. Itulah Umar ibn Al-Khatab berjumpa dengan Hudzaifah ibn Al-ya-man dan Ali ibn Abi Thalib. “Bagaimana keadaan mu pagi ini, wahai Hudzaifah” tanya Umar.

“Wahai Amirul Mukmin,” jawabnya, “pagi ini aku mencintai fitnah, membenci al-haq, shalat tanpa berwudhu, dan aku memiliki sesuatu di muka bumi yang tidak dimiliki aleh Allah di langit”.

“demi Allah” kata Umar, “engkau membuatku marah”. “Apa yang membuatmu marah, wahai Amirul Mukmin?” timpal ‘Ali ibn  Abi Thalib.

“Tidakkah engkau dengar apa yang di katakana Hudzaifah?” Hudzaifah terdiam, dan tersenyum pada ‘Ali. “Wahai Amirul Mukminin”, kata  ‘Ali, “Sungguh benar Hudzaifah, dan aku pun seperti dirinya. Adapun kecintaanya pada fitnah, maksudnya adalah harta dan anak-anak, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah fitnah cobaan”. (Q.S. At-Taghaabun [64]: 15).

Bayangkanlah kalau kita membenci orang-arang seperti mereka ini betapa bodohnya kita, membersamai semacam mereka, diamnya menjadi tasbih, bicaranya ilmu, ucapanya penuh do’a. Takan ada yang sia-sia bahkan dalam bercandanya, terkandung ilmu dan kebenaran yang membuat kita merenung dalam-dalam.

Mari berangan-angan untuk berada di tengah-tengah orang yang terhubung dengan langit dan merasakan ukhuwah mereka mendekap hangat kita dalam kebenaran, kemuliaan, dan kebajikan.

Dalam dekapan ukhuwah, mari kita telusuri keindahan itu bersama mereka, insya Allah di lembar-lembar selanjutnya. Tapi sebelum itu, akan kita kenali dulu tanah-tanah gersang yang membuat ukhuwah sulit tumbuh, tak mampu berakar, dan mustahil mekar. Akan kita seksamai juga angin, api, dan air yang bisa saja menggersangkan tanah subur yang pernah kita miliki. Kadang mereka datang untuk membuat ukhuwah tertiup hingga hilang, terbakar hingga bagus, dan terbanjir hingga larut, dalam dekapan ukhuwah, kita mewaspadai ancaman-ancaman padanya.

Bagi ummat, atau generasi muda perlu kita tanamkan dalam hati bahwa persamaan dan  persatuan itu harus di pertahankan kemudian kita praktekkan pada masyarakat. Karena memang perpecahan itu dilarang oleh Allah SWT, jadi sifat-sifat seperti perpecahan ini adalah tindakan yang tidak memiliki nilai-nilai positif dan ummat seperti ini tidak akan bahagia dunia dan akhirat.

Judul Buku    : Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis      : Salim A. Fillah
Penerbit    : Pro-U Media
Cetakan    : III; Rabi’ul Tsani 1432 H/Maret 2011
Halaman    : X + 472 halaman
ISBN          : 11: 979-1273-66-9
Peresensi     : Abidin [Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta / Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015]

Reforma Agraria Sebagai Dasar Pembagunan Indonesia

Bagi negara-negara agraris, masalah tanah pada hakikatnya adalah masalah mendasar sepanjang sejarah, manusia sejak manusia berburu hutan atau mengumpulkan hasil hutan, kemudian bertani mengembara sampai pada bercocok tanam secara menetap, penguasaan dan pemanfaatan tanah seringkali menimbulkan sengketa. Kalau kita kembali melihat sejarah peradaban manusia, kita mengetahui semenjak manusia hidup bermasyarakat menetap bercocok tanam, penguasaan tanah menjadi masalah mendasar karena sejak itu tanah mempunyai fungsi pokok kehidupan yaitu baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai produksi yang utama. Demikianlah karena disetiap masyarakat pedesaan di tandai dengan kegiatan produksi pertanian (peternakan, perikanan, dan sebagainya), struktur penguasaan dan peruntukan tanah, yang biasa di kenal dengan nama struktur agraria, selalu melandasi struktur sosial, maka pengaturan kembali atau perombakan penguasaan tanah lebih di kenal dengan nama land reform, maka akan mengarah pada perombakan struktur sosial.

Semasa Indonesia dibawah rejim orde baru, kita menyaksikan banyak sekali kasus di mana berbagaimacam hak yang diberikan tersebut berada diatas tanah yang telah di kuasai oleh penduduk secara turun temurun. Sisi lain dari pemusatan ini adalah terlepasnya akses dan kontrol banyak penduduk atas tanah yang dikuasai sebelumnya dalam proses peralihan akses kontrol atas tanah dari penduduk kepihak lain, di penuhi oleh berbagai metode yang digunakan oleh instutisi politik otoritarian, seperti penggunaan instrumen hukum negara, manipulasi dan kekerasan.

Sistem kapitalisme yang kini menjadi ideologi ekonomi Indonesia telah membawa dampak yang besar. Dalam bidang pertanian, kapitalisme memandang bahwa pertanian haruslah usaha yang berskala luas, efisien dan lagi-lagi bersifat komersial. Dibalik gagasan itulah, tersimpan cacat sosial yang kejam, yaitu meledaknya petani tuna kisma (tidak punya tanah) yang di antar untuk menjadi buruh industri. Berawal dari sana konflik terus berakumulasi menjadi gejolak sosial. Atas persoalan itulah buku ini hadir untuk mengetuk nurani kita semuanya betapa besar ongkos sosial yang harus di tanggung karena kebijakan otoriter itu.

Dengan kehadiran buku ini, yang membahas pasang surut agenda revorma agraria, sekedar untuk membangkitkan kepekaan kita semua terhadap gejolak di dalam masyarakat bawah dengan berbagai skandal yang menyertainya seringkali melanggar hak-hak rakyat atas tanahnya gejolak sosial di mana-mana selama 15 tahun terakhir. Era orde baru hendaknya dapat mengetuk hati para elit baru untuk sadar bahwa “bagi negara berkembang yang agraris, makna kemerdekaan bagi rakyat adalah hak atas tanah yang di garapnya”.

Istilah pembangunan pada mulanya adalah sekedar terjemahan dari kata bahasa inggris development tetapi makna yang dimaksudkan sedikit berbeda apa yang sekarang dimengerti secara umum, pembangunan secara implisit mengacu pada tiga makna sekaligus: Pertama, membangkitkan semangat kemandirian, membangun jiwa merdeka, membebaskan mentalitas dari bangsa penjajah. Kedua, membangun susunan masyarakat baru yang bebas dari penindasan, adil, dan demokratis. Ketiga, membangun secara fisik, bagi kesejahteraan rakyat.

Jadi, orde baru salah menafsirkan makna dari permasalahan agraria, masalah agraria ditafsirkan sebagai pangan, kesalahan tafsir inilah yang dapat menjelaskan mengapa konflik agraria bukannya mereda, bahkan menjadi semakin marak karena konflik agraria pada hakikatnya mencerminkan pelanggaran HAM dan tersentuhnya rasa keadilan. Indonesia itu ironis, negara besar bersifat agraris tetapi jumlah pakar agraria yang ada hanya sedikit itu bagian besarnya dari bidang hukum. Padahal masalah agraria adalah masalah sosial, ekonomi, dan politik multi kompleks, ribuan kasus sengketa yang terjadi selama ini adalah cerminan bahwa orde baru mengabaikan faktor yang mendasar.

Era Reformasi
Dengan jatuhnya pimpinan orde baru, katanya kita masuk ke era revormasi. Benarkah? Jika benar, khususnya di bidang agraria, apa yang harus di lakukan? Namun pertanyaan yang harus di jawab lebih dulu adalah, apakah bangsa Indonesia memang berkemauan untuk melakukan revorma agraria? Perubahan-perubahan yang kita saksikan sekarang ini semenjak Mei, 1998 mencakup berbagai aspek (politik, hukum, sosial, dan ekonomi), namun sifatnya belum final melainkan masih dalam proses hiruk pikuk-nya proses perubahan ini dua hal yang perlu kita cermati : Pertama, kebebasan mengeluarkan pendapat dan kebebasan berserikat mulai terbuka. Kedua, karena masih dalam proses, maka detik ini, arah perubahan itu secara umum masih belum jelas karena masih tergantung dari hasil pertarungan kekuatan-kekuatan yang sangat beragam yang sekarang sedang terjadi, baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi.

Sekarang ini, meskipun pemilu telah selesai namun hasil akhir dari pertarungan itu belum bisa diraba karena menggambarkan berbagai kemungkinan skenario yang akan menjadi hasil akhir kekuatan yang anti reforma agraria masih jauh lebih kuat, hal ini terbukti dari isi program dari partai politik yang mencantumkan program pembenahan agraria, tetapi tidak meletakan sebagai masalah sentral, banyak elit politik yang secara apriori menolak gagasan reforma agraria. Demokrasi,kenyataannya berlaku menunjukan tidak siap berdemokrasi tidak menerima kekalahan padahal, demokrasi modern bertumpu pada tiga asas : “asas mayoritas, asas HAM dan asas kesukarelaan rakyat, bukan hanya Asas mayoritas”.

Jika demikian, hanya darimana kita harus mulai? didalam persiapan kebijakan masa depan yang paling utama harus dipikirkan dengan cermat. Apakah kita akan mengambil jalur reformis ataukah mengambil jalan reforma, belajar dari pengalaman sejarah, khususnya sejarah orde baru, maka siapa pun yang akan memimpin pemerintahan, harus menyadari bahwa paradigm pembangunan orde baru harus diubah.

Perubahan Paradigm Pembangunan
Secara konfesional pembangunan pedesaan (rural development) maupun pembangun pertanian (agricultural development) dianggap sebagai bagian dari proses modernisasi, atas dasar itu, maka negara-negara berkembang dibangun melalui bantuan penanaman modal asing, agar berproses sebagai masyarakat moderen seperti negara-negara maju. Diantara para pakar dunia akhirnya timbul kesadaran ternyata paradigm modernisasi yang mekanistik dan kaku tidak berhasil mencapai sasaranya. Srategi pembangunan pedesaan orde baru dari awal sudah salah karena tidak meletakkan masalah pertanahan sebagai basis pembangunan, atas gambaran tersebut maka yang di revormasi adalah pandangan dasar pembangunan pedesaan harus di ubah. Bangunan perekonomian kita harus di dasarkan kepada konsep ekonomi rakyat yang tangguh, yaitu mampu bertahan terhadap goncangan melalui upaya pemberdayaan, lembaga yang demokrasi perlu ditumbuhkan melalui terbangunnya sikap kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan mengorganisir diri sehingga rakyat pedesaan mempunyai posisi tawar yang kuat.

Globalisasi Sebagai Ancaman
Banyak orang mengatakan bahwa Globalisasi tidak dapat di hindari, namun dalam menghadapi arus globalisasi sebagian menganggapnya sebagai peluang tetapi sebagian lagi menganggapnya sebagai ancaman, kalau kita memang masih setia kepada prinsip kemandirian maka sekalipun untuk sementara masih terpaksa memfasilitasai modal asing, namun hak-hak rakyat harus di lindungi penggusuran, sewenang-wenang harus segera di hentikan, disinilah letak relefansi revorma agraria menghadapi globalisasi. Masalahnya sekarang, sudah siapkah kita untuk itu? Revorma agraria menuntut beberapa prasyarat saat ini belum terpenuhi, yang benar adalah kita menghadapi krisis karena kita tidak menenetapkan masalah agraria sebagai basis pembangunan. Krisis terjadi karena meningkatnya spekulasi tanah,  hasil peneliatian pada tahun 1983 semua krisis yang pernah di alami dunia diberbagai negara sejak krisis tahun 1818 sampai dengan abad ke-20. Jadi, revorma agrarian di perlukan agar kemudian krisis dapat di hindarkan atau kalaupun karena sebab yang lain setidaknya perekonomian kita mampu bertahan.

Tujuan dan Model Revorma Agraria
Dari pengalaman sejarah berbagai negara, dapat kita bedakan adanya dua tujuan yaitu manifest dan latent, pada umumnya sama menuju susunan masyarakat yang adil, menghindari keresahan dan gejolak polotik, optimalisasi alokasi sumberdaya sedemikian rupa sehingga lebih efisien, membangun basis pertanian yang kuat, memberdayakan rakyat tani, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan jaminan hukum hak-hak atas tanah, dan tnggungjawab produksi. lantas mengingat berbagai prasarat apakah benar sekarang ini merupakan momentum yang tepat untuk segera mulai melaksanakan revorma agrarian. pemahama tentang revorma agrarian itu sendiri masih simpangsiur, bahkan di tingkat elit sekalipun.

Untuk mengatasi berbagai konflik yang terjadi selama pelaksanaan revormasi, perlu di bentuk panitia penyelesaian sengketa, baik pada tingkat regional maupun lokal. Panitia itu terdiri dari wakil berbagai kelompok yang umumnya memang dipimpin oleh wakil pemerintahan. Pada zaman 1960-an ada pengadilan land reform yang statusnya di luar pengadilan formal, maka badan tersebut di masa orde baru di hapuskan walaupun dapat di beri nama lain bagaimana pun juga badan seperti itu sangat di perlukan dalam konteks revorma agrarian.

Badan Otoritas Khusus
Revorma agrarian adalah suatu program bernuansa gebrakan cepat bukan suatu kerja rutin, bukan kegiatan birokratis, karena itu untuk melaksanakan di perlukan badan otoritas yang khusus dan terpusat, bersifat independen, yang hanya bertanggungjawab kepada pemerintah. Badan khusus tersebut bentuk pada tingkat regional/daerah, dan dalam kegiatan operasional dalam hubungan itu maka landasan hukum secara nasional tetap di perlukan sebagai payung nasional. Di negara-negara yang menganut sistem otonomi daerah bahkan di negara semi vederal seperti India misalnya undang-undang nasional tentang revorma agrarian. Pemerintah daerah dapat membuat peraturan-perarturan sendiri yang sesuai dengan kondisi setempat, namun tetap tidak bertentangan dengan undang-undang nasoinal sebagai payung.

Memang saat ini belum merupakan momentum yang tepat untuk melancarkan revorma agrarian, kondisi objektifnya belum kondusif untuk itu sekarang inilah saatnya kita semua menaruh perhatian serius, bagi mereka yang pro pembaruan untuk mendesahkan agar sadar akan relevansi revorma agrarian, dan agar bergerak cepat mempersiapkan segalanya. Cepat, cermat, namun dengan langkah pasti. Ribuan kasus sengketa agraria yang merebak di mana-mana selama 15 tahun terakhir era orde baru, hendaklah cukup membuka mata kita semua bahwa masalah agrarian bukanlah soal main-main akan tetapi ini adalah permasalahan keadilan masyarakat.

Judul Buku  : Reforma Agraria
Penulis        : Gunawan Wiradi
Penerbit      : Pustaka Pelajar Offset
Cetakan      : September 2000
Halaman      : X + 247
ISBN          : 979 -9289 -98



Penulis:
Abidin
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta / Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015.


NB:
Tulisan ini pernah diterbitkan pada Majalah Tauhid Edisi Perdana/April 2015

Jejak Perkembangan Islam di Nusantara

Di musim panas yang ganas menggila. Puluhan ribu tentara berkuda dari Samarkand meranggek memasuki gunung Persia utara. Kedatangan mereka bagaikan siluman, secepat kilat laksana badai gurun yang mematikan meninggalkan jejak-jejak kerusakan pada setiap wilayah yang di lewatinya. Sebagian wilayah Persia telah berada dalam genggaman Timur Lang. Penjajahan memang selalu membawa kerusakan. Oleh karenanya perjuangan sebagai musafir di jalani oleh Maulana Malik Ibrahim dan memutuskan pergi dari Persia. Maulana Malik Ibrahim dan kedua sahabatnya telah berhasil terlepas dari bahaya yang mengancam diri, khususnya ancaman akidah ketauhidan mereka.

Sejak dulu, orang Persia memang terkenal sebagai para pengembara. Mereka bisa di jumpai di hampir belahan dunia. “Di Samarkand, Timur Lang melakukan pembangunan gedung besar-besaran, tapi sama sekali tidak menghargai para ulama”. Timur Lang telah mempermalukan Islam. Dengan dalil dakwah Islam, mereka membunuh para penganut agama lain dan mengahancurkan kota. Padahal, tujuan dia menyerang negara lain adalah karena ambisi pribadinya sendiri untuk menjadi penguasa dunia.

Jawa adalah rimba balantara bagi para penjuru dakwah yang belum berpengalaman, seperti Ibrahim As-Samarkandi. Diiringi dua puluh pengawal pilihan dari Pasai yang merupakan prajurit terlatih Sultan Ahmad, rombongan para da’i itu berangkat ke Jawa menggunakan kapal layar. Mereka singgah sebentar di Perlak yang dulunya merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara, yang tinggal menyisakan kejayaan masa lalu setelah dihantam perang saudara hingga akhirnya bergabung dengan Kerajaan Pasai.

Sebelum mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa, tentu saja Syekh Jumadil Kubra dan Maulana Malik Ibrahim harus bisa berbahasa setempat. Memasuki gapura gerbang desa Roomo yang terlindungi oleh beberapa pohon waru, pedati yang berjalan paling depan mendadak berhenti. Ternya ada sesosok pemuda berkata “berhenti” jangan bunuh kami pinta sang pengemudi dokar sambil mengiba layaknya budak. Maulana Ibrahim memberi isyarat kepada tujuh pengawal, para pengawal Maulana Malik Ibrahim tak kuasa turun tuk tangani. Tujuh pengawal itu segera beringsut turun dari pedati dengan tenang. Dan merekapun menghadapi para penjahat itu dan berhasil dikalahkan dan penjahat tersebut meminta ampun kepada Maulana Malik Ibrahim dan betaubat.

Adapun Maulan Ishaq, kakak tiri Sunan Ampel itu telah melakukan perjalanan laut menuju kearah timur menyusuri pesisir utara bagian Jawa Timur. Para pedagang Bali dan Sumbawa banyak di temukan di sini. Perlu waktu untuk bisa mendekati masyarakat yang cenderung berkepribadian tertutup karena faktor sejarah yang menyundutkan mereka itu. Pesta pernikahan Maulana Ishaq yang telah berusia empat puluhan tahun dengan Dewi Sekardadu yang baru berusia eman belas tahun berlangsung meriah. Pati Semboya menemukan titik temu antara ajaran hindu yang dia anut dengan tasawuf Islam yang di sampaikan oleh Maulana Ishaq, terasa lain hingga membuat Ki Pati berhasyrat untuk menyelaminya lebih dalam lagi. Atas bujukan Ki Patih yang di bantu para Resi, Adipati Menak Sembuyu berniat membunuh bayi dalam kandungan putrinya jika sudah lahir kelak. Anak itu adalah keturunan Maulana Ishaq yang di curigai sebagai penyebab pegebluk yang melanda Blambangan. Ini hanya cobaaan kecil aku masih menyadari bahwa aku masih memiliki Allah sebagai pelindung.

Agama Islam dengan cepat di terima oleh masyarakat luas baik di pesisir maupun pedalaman. Ini tak terlepas dari peran kerajaan Demak dan Giri Kedhaton yang sudah memiliki tatanan pemerintahan teratur. Dan tokoh yang sangat berperan atas berdirinya kerajaan Demak Bintara dan Giri Kedhaton ini adalah Sunan Ampel. Kejadian ini mengingatkan pada peristiwa fathul makkah di mana nabi Muhammad saw berhasil menaklukan kota makkah dan mengislamkan semua penduduk kota tersebut. Tiga tahun ia menikmati kejayaan awal agama Islam di tanah Jawa yang di tandai berdirinya kerajaan Demak. Hingga akhirnya dia wafat tahun 1481 M di usianya ke-61 tahun. Duka mendalam menyelimuti langit Jawa Sunan Ampel di makamkan di belakang masjid Ampel Denta, Surabaya.

Novel ini berisikan cerita sejarah awal perkembangan Islam di Nusantara, kisah dalam novel ini yakni tentang para wali pembawa agama Islam yang beredar di masyarakat yang merupakan perpaduan antara dominasi. Ceritanya di ambil dari beragam sumber pustaka yang di olah sedemikian rupa oleh penulis sehingga tahun kejadiannya tidak menyimpang fakta sejarah yang telah di sepakati umum. Pengarang menulis novel ini bertujuan agar masyarakat tahu tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam. Novel ini sangat bagus untuk di baca oleh masyarakat. Dengan membaca novel ini masyarakat akan terbawa dalam lamunan sejarah perkembangan Islam di Nusantara dan perjuangan para wali dalam menegakkan islam, selain itu, kisah ini bisa menjadi motivasi perjuangan bagi masyarakat khususnya para penerus bangsa. Novel sangat sederhana, dan mudah dipahami mulai awal hingga akhir, novel ini belum sepenuhnya menggukan bahasa Indonesia dan bercampur dengan penggunaan bahasa Jawa.

Susunan penyajian dalam novel yang berjudul “Purnama dari Timur” ini penyajiannya sudah baik. Cara penyampaian ceritanya tidak betele-tele. Gaya bahasa yang digunakan pengarang menggukan bahasa yang tidak baku agar pembaca dan masyarakat dapat mengerti dan memahaminya dengan mudah.

Hal yang menarik dalam novel ini yakni bisa membuat penasaran para pembaca yang membaca novel ini dan mengetahui akhir ceritanya. Selain itu terlihat juga beberapa kelemahan yang terlihat dalam isi novel ini, seperti salahsatu diantaranya tidak mencantumkan gambar para wali, padahal kisah yang tergambar mengisahkan perjuangan para wali dalam mengajarkan dan menyebarluaskan Islam di Nusantara. Selain terlihat beberapa kelemahan, namun dalam novel ini juga memperihatkan kelebihnnya sehingga ketika calon pembaca baru melihatnya saja akan timbul keinginan untuk membacanya, salahsatu kelebihannya terlihat jelas dalam sampul novel yang terlihat bagus dan menarik, dari sampulnya saja terlihat bisa menggambarkan kisah kejadian masa lampau.

Unsur instrinsik dalam Novel bertema masuknya Islam di Nusantara ini, alurnya tegambar maju mundur. Bahasa yang digunakan yakni bahasa Indonesia tidak baku di campur dengan bahasa daerah (bahasa Jawa). Penokohan yang tergambar yakni memperlihatkan Maulana Malik Ibrahim yang sangat rendah hati, memaparkan kebijaksanaan Syek Jumadil Kubra, menyajikan Ibrahim as-Samarkandi seorang yang jujur, Kajeng Ratu yang tegas, Mbah Sholeh Muncul yang bersih, dan Raden rahmat yang rajin. Amanat yang disajikan bahwasannya kita diajak untuk mengikuti jejak perjuangan para wali terdahulu yang sikap dan tingkahnya tidak mudah menyerah dan tidak pernah putus asa dalam menyiarkan agama Islam. Setting yang disajikan dalam novel ini menggambarkan kehidupan di desa, pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Tergambarkan juga suasana sepi, mengharukan, menegangkan, panik, takut serta sedih.

Sebagai simpulan akhir, Novel ini berisikan cerita tentang perjuangan dan awal masuknya islam di nusantara, cerita menggambarkan tentang perjuangan dan kesabaran.

Sebagai masukan atau saran. Untuk pengarang, agar lebih jeli lagi dalam membuat karangan dan setingan cerita, supaya pembaca benar-benar terasa seakan pembaca juga ikut terlibat dalam masa yang tergambar dalam cerita.

Untuk memperkaya bahasa dalam meresensi buku “Purnama dari Timur” ini, peresensi juga mengutip dari buku lain, yakni bukunya “Karen Armstrong, 2002, Islam; Sejarah Singkat, cetakan ke-1, Yogyakarta: Jendela.” Akhir kalimat semoga resensi novel ini bisa bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Amin.

Judul Buku : Purnama dari Timur
Jenis Buku : Novel
Penulis   : Yudhi AW
Penerbit : Diva Press
Cetakan : 1- Yogyakarta, 2011
Halaman : 382
Harga       : 35.000

Peresensi : 
Intan Kurniati (Mahasiswa UIN Sunan Kalijga Yogyakarta)

NB:
Tulisan ini pernah diterbitkan pada Majalah Tauhid Edisi Perdana/April 2015.

[Resensi] Antologi Puisi Aku Kau dan Mereka



Buku Antara Aku Kau dan Mereka (sebuah antologi puisi) yang ditulis oleh M. Jamil dan Dedi Purwanto. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang dipoles mejadi satu buku (antologi puisi). Didalamnya terdapat delapan puluh puisi yang terdiri dari 34 puisi karangan M. Jamil dan 46 puisi karangan Dedi Purwanto.  

Puisi-puisi dalam buku ini, ditulis oleh para penulisnya mulai dari tahun 2010-2014. Dengan membaca buku ini, paling tidak para pembaca akan mengetahui sebagian perjalanan hidup para penulisnya yang tergambar dalam bait-bait puisinya. 

Adakalanya pemerintah dan wakil rakyat dalam pengambilan kebijakan-kebijakan tidak memihak kepada rakyat. Dalam buku ini, bentuk apik yang dilakukan oleh para penulisnya untuk mengkritik kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyak, salahsatu contohnya dalam puisinya “Kicauan Kosong” di halaman 49-51. Dalam puisi ini penulis melemparkan kritikan yang pedas untuk para wakil rakyat yang ketika ia datang ke masyarakat sebelum menjadi  wakil rakyat dengan membawa seribu janji manisnya, dan ketika sudah menjadi wakil rakyat seperti yang diharapkannya, maka kebanyakan mengabaikan janji-janji manis itu. Berikut beberapa baris puisi tersebut, “Hei kau yang disana, Kicauanmu hanyalah kicauan kosong, Kicauanmu hanyalah kicauan kosong, Apakah masih pantas menyandang gelar sebagai “WAKIL”, Apakah masih pantas?” (halaman 51).

Dalam buku ini juga tergambar kisah perjalanan spiritual dari penulisnya. Seperti halnya bait pertama dari puisi yang berjudul “Titik Akhir” yang ditulis oleh saudara Dedi Purwanto. Berikut kutipan bait tersebut, “Ketika nada telah sudi untuk beralun, Senandung makna ber-sujud pada kekasihnya, Gelombang sinar fajar meluapkan do'anya, Pelita semesta malam meniduri kesunyian, Angkuh tunduk pada pertapaan yang sempurna”, (halaman 89).

Akhir kata, selain jadi penambah referensi dalam sastra puisi, buku ini sangat layak dijadikan bahan renungan bagi semua penikmat sastra. 

Judul Buku     : Antara Aku Kau dan Mereka (sebuah antologi puisi)
Penulis      : M. Jamil dan Dedi Purwanto
Penerbit    : FIMNYPress
Cetakan   : November 2014
Halaman   : 187 halaman
Harga         : Rp35.000,-
Peresensi  : Julkifli

NB:
Bila para pembaca menginginkan buku ini, silakan Pesan lewat Info Klik Disini.

Ambisi Kaum Yahudi Menguasai Dunia


Judul Buku : Sejarah Konflik dan Peperangan Kaum Yahudi
Penulis : Najamuddin Muhammad
Penerbit : Buku Biru
Tahun terbit : 2014
Tebal Buku  : 190 Hal
ISBN : 978-602-255-405-9

FIMNY.org – Sejak zaman dahulu, dunia telah dipenuhi oleh berbagai kospirasi. Banyak studi sejarah yang mengungkap berbagai peristiwa besar dalam peradaban manusia yang dipicu oleh kehendak segelintir orang yang hendak menancapkan kekuasaan dalam Negaranya. Kaum yahudi dikenal sebagai sosok yang jenius dan cerdas serta mempunyai lobi yang membuat orang susah untuk untuk menolak. Tidak heran, dalam perjalanan peradabannya kaum yahudi seringkali sulit berbaur dan berasimilasi dengan kebudayaan setempat dimana mereka tinggal, karena mereka merasa menjadi etnis yang paling unggul dan sosok yang istimewa dari ciptaan tuhan.

Berbicara tentang kaum yahudi, maka mungkin akan terlintas dalam pikiran kita mengenai bangsa israel yang menindas dan mengeksploitasi bangsa palestina. Kaum yahudi dan israel layaknya dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Cikal bakal kaum yahudi atau israel memiliki lebih dari satu versi. Namun, versi yang terpopuler dan terpercaya menyatakan bahwa kaum yahudi adalah keturunan dari nabi ibrahim. Nabi ibrahim mempunyai dua orang anak yaitu ismail dan ishak dari kedua istrinya, hajar dan sarah. Dan dari keturunan ishak inilah cikal bakal atau awal munculnya kaum yahudi.

Orang yahudi terkenal dengan kecerdasan dan kejeniusannya otaknya. Tetapi, seiring dengan tingkat kecerdasan dan kejeniusannya, kaum yahudi mempunyai watak-watak yang  sangat merugikan orang lain. Adapun beberapa watak kaum yahudi yang disebutkan dalam al quran antara lain : al hasad (dengki), al fusuk (ingkhar pada allah), suka melanggar janji, rakus pada kesenangan dunia dan takut mati. Dalam sejarahnyapun kaum yahudi sangat  membenci nabi muhammad dan seluruh umatnya (umat muslim).  Sebagai manifestasinya, kaum yahudi senantiasa memusuhi islam dan melakukan rekayasa untuk melenyapkan kitab suci al quran dari  muka bumi ini, karena dalam kitab itu kaum yahudi merasa ditelanjangi dalam soal kebobrokan kaumnya.

Sejarah konflik kaum yahudi dengan umat islam sudah ada ketika rasulullah masih hidup dan memimpin kota madinah al munawwaroh. Hal ini dibuktikan dengan adanya konflik dan perselisihan  antara nabi muhammad dan umat islam dengan bani-bani (suku-suku) dari kaum yahudi dimadinah waktu itu. Sebagai contoh, sebut saja tiga  suku utama yahudi yang tinggal di madinah yang ketiga-tiganya pernah berselisih dengan rasulullah atau umat muslimin yaitu kaum yahudi dari bani nadhir, kaum yahudi dari bani quraidhah, dan kaum yahudi dari bani qainuqa.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa kaum yahudi memiliki karakter sombong dan selalu mengunggulkan etnisnya sendiri. Walaupun mereka sebagai kelompok pendatang, karena haram hukumnya bagi mereka untuk berbaur apalagi berasimilasi denga komunitas setempat atau selain dari golongan mereka, walaupun mereka hidup dan tinggal dalam masyarakat yang plural, tetapi kaum yahudi hanya bisa berbagi dengan kaumnya. Riwayat perjalanan konflik kaum yahudi  masih berlansung hingga kini. Mereka selalu menjadi sutradara  atau aktor dibalik layar dalam konflik dan drama berdarah disetiap waktu dan tempat.

Tragedi tak berdarah di inggris adalah merupakan ulah kaum yahudi, yang merasa kesal karena diusir dari tanah inggris oleh raja inggris, Edwar I pada tahun 1920. Kemudian, perang tanpa nama yang terjadi di prancis, merupakan tragedi berdarah dalam revolusi prancis (1789-1799) yag dilakukan kaum yahudi dengan sengaja menggiring negara tersebut dalam situasi krisis, sehingga terjadi gejolak dan pemberontakan dari bawah. Tidak hanya itu, melainkan masih banyak lagi, misalnya seperti dibalik pembantaian minggu berdarah, tragedi yang terjadi pada tanggal 22 januari 11905 di rusia, tragedi holocaust (drama petinggi yahudi), zionis di bumi palestina, drama perdamaian israel dan palestina, dan brutalisme yahudi terhadap palestina.

Perjuangan kaum yahudi dengan misinya untuk menguasai dunia belumlah berakhir, melainkan masih bertambah eksis, apalagi dengan munculnya segala macam kecanggihan sebagaimana saat ini. Pada saat ini kaum yahudi telah melakukan penyusupan di media-media massa dan badan-badan internasional. Penyusupan kaum yahudi dalam media massa, misalnya salah satu pendiri kantor berita  terbesar di dunia adalah seorang yahudi, julius reuter yang lahir pada tahun 1816. Begitupun dengan surat kabar new york times yang terbit sejak tahun 1841, merupakan media paling bergensi yang dikuasai loeh kaum yahudi. Kaum yahudi pun tidak terlepas dari dunia perfilman dan televisi sebagai alat untuk menggapai tujuannya dan ambisinya.

Beberapa perusahaan di dunia telah berhasil dikuasai dan dikendalikan oleh kaum yahudi. Kaum yahudi sengaja memproduksi film agar kebenaran ddi dunia ini bisa di putar balikan. Adalah 90% perusahaan perfilman di amerika serikat berada dalam kendali kaum yahudi. Dan sampai saat ini kaum yahudi sudah mampu menyusup pada perusahaan penerbitan buku-buku, menyusup pada badan-badan dunia. Sebut saja salah satu badan internasional yang sangat terkenal adalah PBB (perserikan bangsa-bangsa). Organisasi yang didirikan pada tahun 1945 denga sidang pertamanya adalah pada tahun 1946 di new york, sekaligus menjadikan kota itu (new york) sebagai markas besarnya. Dalam organisasi ini kaum yahudi mempunyai pengaruh yang cukup besar, karena banyak petinggi PBB yang bersal dari kaum yahudi.

Itulah sekilas tentang sejarah konflik dan peperangan yang diciptakan oleh kaum yahudi sebagaimana yang dijelaskan penulis dalam buku ini. Memaparkan bagaimana kaum yahudi dengan misinya untuk menguasai dunia dan ingin membuktikan kepada dunia bahwa mereka merupakan golongan yang suprior di antara kaum lainnya. Dalam bukunya penulis secara tersirat memaparkan tentang bagaiamana kaum yahudi berusaha menguasai dunia denga kepiawaian yang mereka miliki. Dan bagi siapapun yang ingin mengetahui secara rinci tentang kaum yahudi, saya pikir buku ini bisa dijadikan sebgai salah satu sumber rujukan dan sumber pengetahuan. Dan siapa sangka, bahwa dibalik tragedi perang dunia I, Dunia II maupun bom atom yang meluluh lantakan kota hirosima dan nagasaki di jepang, ada campur tangan pihak yahudi. Lebih jelasnya silahkan baca bukunya. (Pernah dimuat juga di wasathon.com)

Peresensi : Agus Salim DH, Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan pengurus FIMNY Bidang SDM.

Maja Ro Dahu (Malu dan Takut) “Inspirasi Untuk Indonesia”

FIMNY.org – Sudah lama Bangsa Indonesia merdeka dan mengiginkan manisnya peradaban yang di bangun dengan budaya-budaya serta etika yang di junjung tinggi di atas nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi Negara yang diyakini oleh Pemerintah dan Masyarakat indonesia secara luas. Para perintis negara seperti Soekarno, Hatta dan Tan Malaka dengan jiwa semangat memperjungan kemerdekaan supaya tidak lagi diperbudak oleh negara-negara asing. Tapi persoalan negara ini belum selesai setalah reformasi, hanya menggantikan rejim ke rejim yang lain (kekuasaan), jadi belum seutuhnya kemerdekan, karena masih ada ketimpangan sosial, KKN, melakukan eksploitasi secara fisik dan psikis dan juga menjual harkat dan martabat Negara demi jabatan dan kepentingan individu semata sehingga harapan kemakmuran masyarakat belum juga tercapai.

Jiwa kepempinan seperti Soekarna dengan kesadaran Kemerdekaan yang bersifat kesadaran kerakyatan, Hatta dengan jiwa berjuangannya pada pendidikan dan ekonomi sudah melakukan kontrubisi besar pada pembangun kemerdekaan, dan Tan Malaka dengan Roh semangat keberanian sehingga tidah muda tunduk dengan negara-negara asing. Itulah para Negarawan sejati dengan rasa memiliki kepribadian yang luhur, masih banyak tokoh-tokoh pejuang melakukan berkontribusi langsung pada pembangun kemerdekaan seperti R.A Kartini, Pangeran diponegoro, dan Sahrir.  Kita sebagai anak bangsa punya kewajiban untuk mencerdaskan bangsa untuk mengikuti jejaknya dan Jangan Melupakan Sejarah.

Kalau kita mengamati dengan seksama Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) Negara Indonesia ini Sudah cukup memiliki serta keberagam suku, bangsa, budaya, adat istiadat, bahasa daerah dan serta agama yang berbeda-beda. Sehinggan nilai empat pilar berbangsa dan bernegara seperti  pancasila, undang-undang dasar 1945, NKRI dan Bhinea tunggal ika. Ini menjadi kebijakan untuk persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Persatuan perlu dilestarikan dan dikembangkan (Menejemen) sehingga tidak perlu ada Impor barang dari luar negeri karena kita sudah memiliki kekayaan Alam yang melimpah , mulai dari sabang sampai ke merauku seperti (Surganya Dunia). Serta potensi pemuda sudah cukup memadai untuk menata kembali dengan baik kehidupan kenegaraan kearah kreatif dan inofasi. Sehingga untuk pemuda yang memiliki potensi luar biasa jangan sampai terkontaminasi dengan perilaku barat seperti hedonisme dan pragmatis tampa dilakukan filterisasi. Nilai-nilai budaya yang terkandung di nusantara mesti di pegang dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi semestinya pemerintah, pemuda dan masyarakat mulai melakukan Introspeksi dalam menata dan menjaga budaya dengan nilai-nilai, norma dan etika yang terkandung, sebagai mana yang ada di setiap daerah – daerah memiliki kearifan lokal. Salah satu di buku ini memuat pesan-pesan moral yang harus di lestarikan sebagai landasan terutama pemimpin sebagai wakil rakyat (MPR, DPD, DPR dan DPRD) untuk merestorasi (perubahan) pada setiap daerah yang mewakili rakyat.

 Sebentar lagi kita akan menghadipi Pesta Demokrasi dan melakukan pemilihan pemimpin-pemimpin daerah sehingga pesan moral perlu dikedepangkan. Dalam beberapa tahun ini banyak sekali pejabat-pejabat tersangkut dengan Korupsi, KKN dan menjual harkat martabat demi kekuasaan, akhir-akhirnya banyak uang negara yang sudah dirampas sehingga kemiskinan dan pendidikan belum terselesaikan dan masih dipertanyakan ? Padahal semestinya amanat masyarakat perlu dilihat. juga masyarakat harus objektif untuk memilih pemimpin yang bisa memegang amat atau punya kapabilias menjadi seorang pemimpin dalam membawa perubahan kearah yang lebih sinergis sebagai bentuk integrasi pempimpin dan masyarakat.

Pesan moral serta aktualisasi nilai-nilai buku Maja ro Dahu (Malu dan Takut) antara lain “Maja kaipu ma taho, dahu kaipu ma iha” (malu untuk tidak melakukan hal-hal yang baik, dan takut kepada hal-hal berdampak negatif). Hal 11. Ini merupakan penghayatan atau merupakan pesan Sosial, Intelektual dan Transental. hampir bersamaan dengan Pancasila sebagai Ideologi negara, karena termuat kehidupan sosoial masyarakat, rasa solidaritas dan keadilan. Membawa segudang pesan budaya kearifan lokal  yang ada di Bima untuk semua kalangan dan lebih-lebih untuk Nusa dan Bangsa Indonesia.

    Untuk mendapatkan keadilan bersama perlu ada Mbolo (musyauwarah) untuk mememukan solusi, dengan keputusan yang menghilangkan dampak negatif dan bukan atas dasar kepentingan kaum borjuis semata. karena itu, “aina wa’a huru ro mbao, aina nono nocu nono aru” (jangan gegabah, jangan terburu nafsu, agar hasilnya nanti dapat menentramkan/membahagiakan) hal 21. Sehingga dengan adanya musyauwarah memberikan keadilan bersama dan keuntungan bersama sesuai dengan harapan serta kepentingan kepentingan individu dijauhkan untuk kemaslahatan ummat.

 Jalan yang di tempuh oleh pemerintah  dalam penyelenggaraan negara sebenarnya adalah sifatnya adalah saling tolong-menolong dengan memandang semua umat manusia (Pluralisme) untuk masyarakat, agama, dan negara, karena ukuran kebahagiaan yaitu kesejahteraan dan kenyamanan dengan prinsip moralitas (akhlak). Sepeti :
“Ketimpangan-ketimpangan sosial dalam masyarakat, hanya dapat di atasi dengan jalan saling tolong-menolong dan salin bantu membantu” (hal 25).

Dalam tolong menolong dengan tujuan mendapatkan keadilan bersama serta dianjurkan berlaku adil antar sesama ummat manusia karena keadilan merupakan manifestasi dari keluhuran budi manusia sehingga melahirkan kebersamaan persaudaraan dan kasih sayang untuk sesama. 

    Rasa solidaritas perlu ditumbu kembangkan oleh pemerintah kepada masyarakat sebagai rasa kemausiaan yang harus di budidayakan. Nilai-nilai rasa solidaritas semua ajaran agama mengajarkan hal yang sama, bahkan ketika membuka kembali lembaran sejarah hidup para Nabi SAW separuh harta dan tenaganya untuk ummat manusia (akhlak).

    Hidup kita ini bukan perlombaan, tapi bagaimana seharusnya berbuat dengan berusaha sebisa mungkin karena tidak selamanya berunjung nilai, jadi banyak hal yang bisa mendewasakan kita entah sebagai jiwa kemanusiaan atau bersifat intelektual serta memprioriraskan diri dalam melakukan rekonstruksi ke arah pendewasaan. Begitupun kita ketika merumuskan program kerja jangan sampai merumusan dalam bentuk jangka pendek yang dinikmati oleh satu periode tapi bagaiman merumuskan untuk jangka panjang yang bernilai dan berbobot. 

    Nilai-nilai luhur yang di inspirasikan dalam buku ini bisa dimanifestasikan oleh pemilu 2014 untuk para pemimpin, memiliki sifat utama, jauh dari sifat-sifat yang dapat memerosotkan harkat dan martabat diri kita sebagai manusia. Jadi Orang bima pada umumnya memiliki Fitual (Filsafat Hidup) dan salah satu yang termuat di buku ini. Untuk itu perlu adanya pembina, memelihara, melindungi dan mengawasi umat manusia sebagai tanggung jawab bersama, dalam kehidupan sosial, pendidikan, budaya, politik, hukum, agama dan negara.

    Perlu mewujudkan kekuatan baru dalam masyarakat, kemudian kebersamaan baru untuk dikembangkan oleh pribadi-pribadi yang diliputi dengan suasana kasih sayang, persamaan hak , gotong royong, persaudaraan, bebas dari penindasan, ketidakadilan di jauhi, dan pemerasan di tumbangkan. Dengan persatuan bisa menumbang kekuasaan manapun dan kebudayaanya yang tinggi  untuk keadilan kemanusiaan dan serta mendirikan kemerdekaaan nilai ummat, untuk seluruh ummat manusia dan NKRI menjadi harga mati.

Jadi perlu kita sebagai anak bangsa mematuhi nilai pancasila serta UUD 1945 dan keyaan kebudayaa merubah cara pandang ke arah Kedewasaan berpikir, harus di kembangkan kembali serta dilestarikan setiap ummat manusia, masyarakat mendambakan pemimpin-pemimpin yang sinergis dengan semangat juangnya bisa melakukan kontribusi langsung kepada masyarakat sebagai satu kesatuan integrasi (Persatuan) ummat, Sehingga ukuran besarnya suatu Bangsa ketika menghasilkan kesejahteraan masyarakat seutuhnya. 



Judul Buku     : Maja Ro Dahu (Konsep Harga Diri Komunitas Mbojo, NTB) Sebuah Kontribusi Bagi Terhapusnya Kekerasan Di Indonesia
Penulis     : Abdul Malik Mahmud Hasan
Penerbitan     : Yayasan Nuansa Nusa (Yansa) Yogyakarta
Tahun Terbut     : 2012
Tebal         : 58 Hal
Peresensi     : Sulaiman (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


Tan Malaka sebagai Guru Bangsa

Resensi Buku, FIMNY.org – Tan Malaka, merupakan sosok sang pemikir yang luar biasa yang pernah dimiliki Bangsa ini. Bukti bahwa beliau seorang pemikir yang hebat adalah lewat karya-karyanya, Partai Murba atau MADILOG (materialisme, dialektika, dan logika) merupakan salah satu karyanya yang monumental.

Tan Malaka mengakui memiliki banyak guru, tetapi tidak pernah meniru secara keseluruhan  corak pemikiran seseorang.  Bagi Tan Malaka, bahwa sistem berpikir tidak dibangun oleh ide seseorang, melainkan oleh keadaan dan berbagai peristiwa dalam lingkungan komunitas maupun masyarakat. Oleh karena itu, kehidupan adalah guru bagi Tan Malaka, sebagaimana ungkapannnya : “Lingkungan adalah guru sejatiku”. 

Tan Malaka lebih suka memilih menjadi guru bangsa daripada menjadi penguasa, secara  filosofis. Guru bangsa merupakan teladan, orang yang menjaga dan mengarahkan laju bangsa agar tetap pada alurnya sebagaimana yang disepakati bersama. Maka, bagi Tan Malaka sangat perlu mengetahui jati diri bangsanya terutama untuk para penguasa.

Tan Malaka pernah berkata : “Soekarno pernah berkata kepada saya, bahwa saya harus siap memimpin Negara ini, jika sesuatu yang buruk  menimpa beliu”. Pernyataan itu tidak di artikan mandat untuk menjadi penguasa, melainkan dipahami sebagai mandat untuk membimbing generasi muda dalam menapaki kehidupan bernegara. Sikap diatas menunjukan bahwa beliau tepat dan wajar jika beliau dijadikan sebagai guru bangsa.

Lokus kepemimpinan Tan Malaka lebih diarahkan pada pembentukn mental dan daya pikir bangsa. Pengembangan daya pikir inilah yang menjadikan Tan Malaka sebagai sosok yang penting bagi Soekarno dan para founding fathers maupun Pancasila.

Itulah beberapa alasan sebagaimana disebutkan diatas bahwa Tan Malaka tepat dijadikan sebagai guru bangsa sebagaimana yang termuat dalam buku ini. Karena loyalitasnya kepada bangsa ini tanpa ada belenggu maupun kepentingan pribadi.

Dalam buku penulis menceritakan corak pemikiran Tan Malaka dengan pendekatan spiritual-metafisik, maka dirasa penting untuk dibaca dan dipahami oleh siapun yang cinta kepada bangsa ini (Indonesia), terlebih kepada para pemuda dan kaum terpelajar untuk menumbuhkan loyalitasnya kepada bangsa dan mengetahui jiwa bangsa yang sesungguhnya, yang kemudian melahirkan pemimpin yang loyal dan tahu akan jati dirinya dan jati diri bangsanya.


Judul Buku    : TAN MALAKA The Leadership Secret Of
Penulis          : Argawi Kandito
Penerbit        : ONCOR Semesta Ilmu
Tebal Buku   : xii+124 Hal
ISBN           : 978-602-96828-9-2
Peresensi      : Agus Salim, Anggota Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Membongkar Kebenaran G 30 S-PKI

Resensi Buku
FIMNY.org – Tidak dapat kita pungkiri bahwa gerakan 30 September atau yang kita kenal G 30 S-PKI. Masih segar dalam ingatan kita, semua akan keganasan PKI. Sejarah dan perjalanan Indonesia kita pernah di hantam tragedi yang memilukan sekaligus memalukan. Tragedi G 30 S-PKI yang merupakan bagian dari sejarah hari kesaktian pancasila (1 oktober 1965). (hal 5)

Siapakah sebenarnya PKI? Pada tahun 1914 ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging) oleh Henk Sneevliet, yang kemudia pada tahun 1920, ISDV resmi diubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia (PKH), dan Semaoen sebagai ketua. Kemudia selang empat tahun yaitu 1924, PKH dirubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). (hal 18)

Aksi PKI pada masa kolonial Belanda, pada November 1926 dengan alasan atau dengan sebuah cita-cita ingin lepas dari pemerintahan yang banyak menyengsarakan rakyat.(hal 27). Kemudian PKI melakukan aksinya pasca proklamasi atau pada saat pemerintahan orde lama yang di kenal dengan peristiwa Madiun (Madiun Affairs) adalah sebuah konflik yang terjadi pada bulan September-Desember 1948. (hal 37)

Kita tahu bersama lahirnya gerakan 30 September (G 30 S, G-30 S/PKI, Gestapu). Yaitu, sebuah kejadian yang terjadi pada tanggal 30 September 1965, pada peristiwa ini enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya diculik kemudian dibunuh. Peristiwa G 30 S-PKI terjadi karena beberapa faktor, yaitu menguatnya PKI di pemerintahan, keretakan Indonesia dan Malaysia, gesekan petani dan pemilik tanah, isu sakitnya Presiden, isu Dewan Jenderal, dan isu dokumen Gilchrits.(hal 93-118)

Lalu, bagaimana kronologi dari gerakan 30 S-PKI ini, ada beberapa perintah yang diberikan kepada pasukan-pasukan dalam gerakan 30 S-PKI. Yaitu pertama, pasukan Pasopati untuk menculik para Jenderal pimpinan TNI-AD dan membawanya ke lubang buaya. Kedua, pasukan Bimasakti yang ditugasakan untuk menguasai kota Jakarta yang terbagi ke dalam enam sektor. Ketiga, pasukan Gatot Kaca berfungsi sebagai pasukan cadangan bertugas menampung tawanan hasil penculikan kemudian dibunuh dan dikuburkan. Keempat, proses penculikan di mana setelah semuanya terkondisikan dengan baik maka semua pasukan yang disiapkan segera melakukan tugasnya masing-masing. (hal 123-129)

Dari gerakan-gerakan yang telah diatur oleh pasukan-pasukan PKI tersebut, tentu ada banyak korban dari gerakan 30 September itu selain enam tokoh utama pada saat itu. Dengan adanya kontroversi mengenai G 30 S-PKI, maka sangat perlu buku ini kita baca untuk lebih memahami tentang lahir, aksi, dan sampai akibat dari gerakan ini (G 30 S-PKI), terutama untuk kalangan generasi muda. Sebab, persoalan PKI telah merobek Bangsa dan Negara ini, maka patut untuk kita refleksikan kembali agar peristiwa yang serupa dapat kita jadikan pelajaran dan supaya tidak tejadi lagi di masa yang akan datang dengan bahasa dan nama yang lain. Supaya peristiwa yang menelan jutaan nyawa yang tidak berdosa tidak terulang kembali di Negeri yang kita cintai ini.


Judul Buku   : KONTROVERSI G 30 S
Penulis         : Herman Dwi Sucipto
Penerbit       : Palapa
Tahun terbit  : 2013
Tebal           : 234 hal
Peresensi     : Agus Salim, Anggota Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


 
Copyright © 2008 fimny. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by www.phylopop.com